Author Archive
Ah, udah lama blog ini nggak diisi.. Tapi ternyata masih muncul paling atas kalau nama gua dicari di Google! Hehehe..
Dan ternyata udah berubah ya, sekarang pakai aplikasi Wordpress! jadi lebih familiar, lebih enak juga makenya..
Jadi mikir-mikir buat mulai ngisi blog ini lagi..
No Comments »
Moving to another blog, that is…
Soalnya blog FS itu lambat dan kalau mau komentar harus jadi anggota FS.
Jadi kalau sekarang mau liat blog gua, alamatnya http://autistictendencies.wordpress.com.
See you there!
No Comments »
Hahh… dini hari awal long weekend (walaupun tiap hari gua bisa milih utk cabut kuliah, dengan segala konsekuensinya, hehe…) Gua lg sama tiga org teman di RK, tp yg masih bangun tinggal gua dan Oky. Dian dan Dedy udah terkapar di kasur RK… BTW Dedy baru kecolongan duit sama HP, jadi buat pembaca sekalian, mari kita doakan biar dia diberi ketabahan ya!
Tadi siang gua ketemu seorang bidadari kampus. Bukan bermaksud GR, waktu tingkat 1-2 dulu sebenarnya gadis ini bisa jadi milik gua, kalau dianalisis dari tanda2 yg dia berikan, tapi nggak gua deketin serius. Bego ya? Tapi kebetulan sih, bisa jadi pembuka buat evaluasi dan nostalgia kecil2an malam, eh dini hari ini…
Gua pernah dengar ada tiga kriteria yang harus dipenuhi seseorang yang menjalani hubungan romantis dengan kita. Orang itu haruslah:
- Orang yang kita cintai
- Orang yang mencintai kita
- Orang yang menjalani hubungan dengan kita (Janggal ya? Gua juga nggak begitu inget, pokoknya ada no. 3 ini)
Dalam kehidupan, orang2 yang kita temui mungkin akan memenuhi satu, dua, atau semua kriteria di atas. Idealnya, siapapun yang akhirnya menjalin hubungan dengan kita memenuhi ketiganya. Sayangnya, banyak orang yang nggak berhasil nemuin orang yang seperti itu, dan akhirnya harus puas memiliki orang yang hanya memenuhi dua, bahkan satu dari ketiga kriteria tersebut.
Nah, tentunya, sesuai judul blog ini: bagaimana dengan Arya?
Kembali pada bidadari… eh, gadis di awal cerita ini, si T. Kalau menurut gua dia mendekati kriteria (DK) 1 dan 2. Gua bilang mendekati karena emang blm pernah bener2 dekat, jadi kemungkinan besar rasa itu blm sempat tumbuh, tapi at least attraction-nya udah ada. Nggak tahu sih kalau sekarang, hehe.
Selain dia, pernah ada lagi orang yang DK (1, 2), waktu gua kls 1 SMA, sebut aja si F. Haha, kayanya awal2 masuk tempat baru org lebih bisa attracted sama gua ya? Tapi dulu gua lebih cupu lg, sampai2 harus dia yg nanya duluan gua suka dia atau nggak, payah, hehe… But it’s the past. Anyway, dia nggak memenuhi 3 karena waktu gua tembak, teman2nya nyaranin buat nunggu org lain yg jg lg ngedeketin dia, yg menurut mereka lebih berkualitas (FYI temen2nya akhirnya nyesel ngasih saran itu, hehe), dan akhirnya jadian sama org itu, yg satu angkatan lebih tua. Yg begonya, udah tahu dia DK (1, 2), dua bulan kemudian gua malah jadian sama sahabatnya dia… Parah bgt…
Sampai sekarang, baru orang ini, si S, yg pernah DK (1, 2, 3). Sayangnya cuma bertahan sebulan, lagi2 karena kebegoan gua, dan mungkin kepolosan dia (gua bego, dia cuma polos, hehe). Jadi selama sebulan, dua insan yang baru pertama kali pacaran, masing2 berusia 16 dan 15 tahun, ngerasa canggung dan nggak tahu pacaran itu kaya gimana. Dan bukannya sama2 nyoba belajar, akhirnya mereka berdua mutusin buat jadi temen lg. Padahal setelah itu ternyata ada berbagai variable pengganggu yang menyebabkan selama sekitar 2,5 tahun mereka berdua hidup dalam perang dingin… Untungnya saat kami berdua masuk ITB perang dingin berangsur-angsur usai. BTW di sini S juga jadi bidadari lho! Jadi gua pernah macarin salah satu bidadari ITB, haha! (Bangga ya…?)
PK (2)… Ada juga sih. Gua nggak bilang memenuhi kriteria (PK) 3 krn emang nggak pernah jadian resmi. Tapi malah berlanjut jadi hubungan TTM selama 6 bulan lebih, yg sulit sekali diakhiri tapi akhirnya dia bisa nerima juga bahwa emang harus berakhir, krn emang nggak PK (1). Lah, terus kenapa bisa TTM? Hm, awalnya gua sekedar simpati (sebagai teman yg baik) sama dia yg baru putus dari hubungan yg berat sebelah, tp akhirnya bisa berlanjut krn adanya singkatan M dari TTM. Go figure, hehe…
DK (1)… Hahahaha… Kalau dihitung ada sekitar… 7 atau 8 deh. Dikit atau banyak tuh? Yah dalam kriteria ini bisa dibilang gua bertepuk sebelah tangan deh. Tapi untungnya, wanita2 yang masuk kriteria ini masih tetap berhubungan baik dengan gua, hehe. Perlu diperhatikan juga bahwa gua kadang2 ngasih perlakuan spesial buat sebagian wanita yang gua anggap deket bgt sama gua, tp bukan karena PK (1), hehe. Kalau wanita2 ini juga dihitung, mungkin jumlah DK (1) bisa nyampai belasan…
Untungnya sampai sekarang gua blm pernah nemuin orang yang PK (1, 3) atau PK (2, 3). Kasihan soalnya, ujung2nya cuma bakal sakit hati, hehe…
Yah itulah evaluasi singkat gua. Atau bisa dibilang progress report ya? Huahahaha…
Kalau buat sekarang, gua blm nemu lg org yg DK (1), yg berarti gua lg nggak ngedeketin siapa2. Yah masih ada sih beberapa org yg sempat DK (1), tp sekarang perasaan gua udah biasa aja, sifat2 mereka yg sempat bikin jadi DK (1) sekarang membuat mereka jadi teman yg menyenangkan…
Semoga cepat nemu orang yang PK (1, 2, 3) lagi, dan kali ini nggak akan gua lepasin! Karena cinta memang nggak harus memiliki, tapi cinta tanpa memiliki itu nggak enak, hehehe…
1 Comment »
… you have found her, now go and get her!
Recently a single by Judika, one of Indonesian Idol last season’s big three, has hit the market. It’s called "Bukan Rayuan Gombal" (roughly Not an Empty Flattery). Despite a slightly too long (okay, not slightly, it’s too long) first line in each verse, I find the song rather nice and memorable. Needless to say, many other Indonesians have an even higher opinion of the song. After all, he’s an Idol, something millions of Indonesians dream to be, judging from the long lines at Bandung’s Sabuga a few months ago for next season’s audition.
However, after listening to the song a few times, I started to feel that some parts of it sound too familiar. After that, it didn’t take long to find out the songs this one must be "inspired" by.
And they’re from The Beatles! The Fab Four, no less!
Let’s see… The chorus of BRG sounds almost exactly like the coda (end part that is repeated until the song fades out) of "Hey Jude". If you’ve heard the song, it’s the part where they chant "Na, na, na, na… Make it true…" Try and listen to it, I’ve even tried singing the chorus to "Hey Jude"’s tune and vice versa, and it fits perfectly!
Meanwhile, the verses are from "Don’t Let Me Down" with a few modifications in - you guessed it - the first line. So to verify the similarities, you need to start at the second line of each song.
I don’t think this can be called plagiarism, however. It’s just funny how a song can sound so similar to two other…
2 Comments »
… things would be so much easier.
Or would it?
A few years ago I read an article in Popular Science (a very fascinating mag, it is) about bananas (fortunately they have an online version of that article here). It stated that some scientists are concerned that the world’s most popular fruit is in danger of extinction, and now they’re researching ways to save it.
"What?" you might say, "but I see bananas in the market every day!"
Well, that ubiquitousness is part of the reason of this concern. You see, most, maybe 90%, of all bananas consumed in the world is of a certain variety called the Cavendish. This variety was found in Southeast Asia (yeah!) in early 20th century, cultivated, researched, and put into commercial production about 50 years ago. Since then, most of the bananas in the world are exactly the same, as if they were cloned from a single host. Well, here in Indonesia we have several other varieties available, like the ambon, raja, pulo, etc., but that’s a special case.
The problem with this condition? A single disease outbreak could wipe out most of the world’s banana population. It had happened before to another mass-produced variety called the Gros Michel, which was wiped out by the Panama disease in the 1960s. In fact, Cavendish replaced the Michel as the world’s banana because of its resistance to the disease.
Diversity is a key to species survival. Different genetic properties within a species guarantees that there’ll always be some that survive any given jeopardy, be it diseases, predators, pests, human, or anything else.
This theory is also referenced in the best-seller manga 20th Century Boys, which dubbed it "The Chosen 1%", as a guarantee that 1% of the human population will survive any virus Friend (the main antagonist) befalls upon humanity. So you see, Urasawa Naoki-sensei rocks! Hehe.
The point? We are all created different for a reason. We may have different colors, views, opinions, tastes, preferences, ways of expressing ourselves, IQs, talents, fashion styles, learning styles, communication styles, and so on, but that’s the way it’s meant to be. We need to understand one another, not look down on, oppress, or even worse, try to kill others who are different from us.
I know it’s difficult. Society, education, the media, and even our own ego usually prevent us from respecting different people. That’s one of the reasons why genocide, negative stereotypes, racism, and divorces happen. Sometimes we can tolerate one kind of difference but can’t tolerate another, like race or religion.
But we have to try. Right?
Otherwise we might face the same fate as the Gros Michel.
Well, but if one day the whole world must switch to avocado splits and monkeys are depicted eating apples, at least here in Indonesia we would still have fried bananas, haha!
2 Comments »
… identifiable only by its relation to another entity, who is, unlike the former, named.
Hahaha, recently there have been a quite amusing phenomenon. Some 2006 students have started to call me "Kakaknya Anie", or "Anie’s Big Brother".
Technically, calling me that wouldn’t be wrong, because I do have a sister named Anie, who was enrolled in the same institute as mine in 2006. In the Faculty of Civil and Environmental Engineering, to be exact.
What I find a bit annoying with that nickname is that it implies that I am, as the title of this post says, a nameless entity identifiable only by my relation to another entity, in this case my sister. If someone is nameless, he is indistinguishable. If he is indistinguishable, others cannot observe whether or not he exists. In such case, according to some schools of philosophy, particularly materialism, I do not exist.
I ain’t mad though - well, I might seem a bit crazy, but mad here means "angry", not "insane", hahaha! - but now I try to get to know my sister’s friends. Obviously those who call me Anie’s brother must know her, right? Hope that one day, all of them can call me by my real name or preferred nicknames. Arya and BL/Eru, respectively.
Besides, knowing a few 2006 chicks wouldn’t hurt at all… Hahaha!
1 Comment »
… when a part of one’s self just wants to die.
(Hahaha, do I sound depressed? Don’t worry…)
No Comments »
—–BEGIN GEEK CODE BLOCK—– Version: 3.1 GE/O d-(+) s: a– C+(++) UB+>+++ P L+ E? W++@ N o? K- w+>++ O? M V? PS+ PE+ Y+ PGP- t 5 X+ R tv+ b+ DI D+ G e>++ h– r->+ y? ——END GEEK CODE BLOCK——
Yg di atas adalah kode yg nunjukin seberapa freaknya gua dlm bidang komputer dan bidang2 pendukungnya… Penjelasan lengkap ada di sini.
Untuk nerjemahinnya, copy-paste kode di atas ke sini.
1 Comment »
Hm, sebenarnya udah telat sehari, tapi hari Idul Fitri juga tiap tahun jadi kontroversi kan?
So, Happy Islamic New Year 1428 H!
Wah, dobel tahun baru harusnya dobel resolusi nih… Blm bikin jg sampai sekarang…
No Comments »
Kalimat di atas gua dengar pertama kali dari tetangga depan kost gua, Dhito. Dia sendiri mendengar ucapan itu dari temannya. Iseng2 search di Google, ternyata kata2 itu juga muncul di salah satu karya seseorang bernama J. Michael Straczynski, yang ternyata adalah pengarang Babylon 5 dan juga pernah kerja buat Marvel Comics.
Benar nggak sih kata-kata itu? Menurut gua sih bisa jadi benar. Bukankah dengan kita punya harapan, apa yang kita lakukan dalam hidup jadi mengarah pada pemenuhan harapan itu? Harapan menjadi sesuatu yang mengikat dan kita biasanya jadi nggak bersedia melakukan sesuatu yang kita takutkan akan menjauhkan kita dari pemenuhan harapan itu. Pengejaran terhadap sesuatu yang kita harapkan bisa menimbulkan penderitaan, terlebih kalau harapan itu nggak tercapai, atau lebih parah lagi, ternyata apa yang kita harapkan itu sia-sia.
Di sisi lain, hidup tanpa harapan juga kosong. Buat apa kita hidup kalau nggak ada tujuannya? Bebas, terombang-ambing, melayang-layang, tapi akhirnya nggak bermakna…
Hahaha, pembahasannya jadi ngeracau gini… Sebenarnya sih intinya gua lagi mikir: apakah sebaiknya gua memilih harapan atau kebebasan?
Toh saat gua punya kebebasan, gua bebas untuk menciptakan harapan-harapan baru…
3 Comments »
|